Keteladanan KH. Yasin Abd Ghoni, Awal Pondok Al-Yasini.



Kisah muda, 
wibawah yang gemar menuntut ilmu. 

Bagi sebagian orang menganggap bahwa masa muda adalah masa yang penuh semangat dan masa dimana seseorang mulai mencari jati dirinya. Kiai Yasin muda juga merasakan masa muda yang sama dengan para pemuda yang lainnya, yang membuat lebih dari beliau adalah masa muda beliau digunakan untuk menimba ilmu di pesantren. salah satu pesantren yang pernah menjadi tempat menuntut ilmu yakni pondok Pesantren Panji Buduran Sidoarjo. Disinilah beliau mencari jati diri dan menuntut ilmu agama yang akan menjadi bekal hidupnya. Setelah beberapa tahun nyantri di pesantren beliau kembali lagi ke kampung halamannya, Desa Areng-Areng, Sambisirah untuk menemani ayah beliau, Kiyai Abdul Ghoni dalam berdakwah. Kedatangan beliau ditengah masyarakat membuat semangat para pemuda untuk mengaji di surau dan sejak saat itu, surau menjadi ramai banyak diisi kegiatan kepemudaan. 

Beliau menikah dengan Nyai Khusna, gadis yang berasal dari Daerah Winongan. Bersama Nyai Khusna, beliau diberi karunia empat orang keturunan, Rukaiyah, Nur Yasin, Munihah dan yang terakhir Imron Fathulloh (ayah dari KH. A. Mujib Imron pengasuh Alyasini sekarang). 

Postur yang gagah dan wibawa menjadikan beliau banyak dikenal masyarakat desa tetangga "beliau itu gagah, tegas dan banyak yang takut kepada beliau" kata bapak Ra'yan yang saat itu masih sekolah dasar.

Ahli Tauhid yang merakyat.

Semenjak Kiyai Abdul Ghoni wafat. Ayahanda Kiyai Yasin, estafet dakwah sepenuhnya diteruskan oleh kiai Yasin, pengajian yang biasanya diasuh oleh kiai Abdul Ghoni digantikan oleh beliau agar tidak terjadi kekosongan. 

Sebagai dasar utama Agama Islam, Tauhid adalah pondasi yang harus kokoh. Beliau adalah tokoh yang sangat menjaga " Tauhid " , bahkan masyarakat menjuluki beliau Kiyai Ahli Tauhid lantaran beliau lebih sering mengajar bab tauhid dari kitab akidatul awam hingga kitab yang membahas masalah makrifat disamping itu bab lainya yang membahas pokok ajaran Agama Islam. 

Kami mendapat cerita dari para saksi sejarah yang masih hidup, beliau waktu itu Istiqomah membaca Nadzom Aqidatul Awam setiap kali akan melaksanakan jamaah sholat rawatib yang hingga kini tradisi tersebut masih dilanjutkan si musholah pondok pesantren Al-yasini meskipun tidak setiap waktu namun sangat baik. " Jadi, Nadzom Aqidatul Awam yang dibaca sebelum sholat berjamaah, pujian di musholah itu peninggalan beliau (Kiai Yasin). " Tutur bapak Rakyan sambil mengingat-ingat masa kecil beliau yang dekat dengan Kiyai Yasin.

Beliau adalah figur yang dermawan, merakyat dan Kerap kali tak pernah meninggalkan bersohodaqoh. Harta benda telah beliau jadikan saranan dakwah dijalan Allah dalam mendakwahkan ajaran Islam, khususnya jika ada orang yang meninggal. Tentu saja keluarga yang ditinggal salahsatu anggota keluarganya menghadap kehadirat Allah, menyisahkan duka. Kiyai tak lupa meluangkan waktu untuk bertakziah dan memberikan bantuan yang dapat meringankan beban keluarga mayit. " Beliau iku loman, lan seneng kumpul-kumpul karo masyarakat". Ujar salahsatu warga yang mengenang kisah beliau.

Rela rembug, tak hanya sekedar mendalil. 

Pepatah mengatakan berdalil lebih mudah dari pada praktek, sehingga orang yang banyak dalil belum tentu mampu menyentuh hati orang lain. Dalam berdakwah dimasyarakat tentu saja ada orang awam. Kiyai Yasin, beliau lebih mengutamakan memberi contoh dari diri beliau tidak hanya sekedar berdalil ( teori ) melalui mimbar maupun halaqoh. 

Cara beliau berdakwah, suatu hari beliau menjumpai masyarakat yang sedang menghadapi problem agama, beliau tidak segan mendatangi orang tersebut dan bertanya tentang duduk masalahnya seketika itu memberikan penjelasan dengan bahasa dan contoh yang mudah difahami bagi orang awam tidak menunggu orang datang kepada beliau meminta solusi seakan. Selain itu, pribadi yang arif dan bijaksana sehingga mengispirasi orang lain dengan kesehariaan beliau yang menjaga ibadah baik vertikal maupun horisontal dengan baik. 

Dalam berdakwah beliau lebih mengedepankan pendekatan psikologi daripada keilmuan terhadap orang - orang awam agama, satu alasan bahwa beliau tidaklah mudah apabilah diundang untuk mengisi ceramah di majlish ta'lim dan yang lainnya. Beliau akan lebih senang jika modelnya halaqoh, tanya jawab. " Beliau itu lebih mengedepankan prakteknya terlebih dahulu dari pada hanya memberikan dalil-dalil di majelis ta'lim tapi masyarakat tidak tahu bagaimana cara mempraktekannya. " Tutur H. Dhofir salah satu cucu beliau yang masih hidup. 

H. Dhofir menyaksikan kehidupan Kiyai Yasin meskipun waktu itu masih berusia anak - anak namun sudah mengerti. 

Saat kami mewawancarainya. Beliau bertempat tinggal di Desa Winongan, 
kampung halaman Nyai Khusnah.

Kuda Sembrani, hewan pun rahmat dan sumur penyelamat
         
Tidak diketahui pasti riwayat masa kecil beliau hingga masa remaja .Karena memang yang mengetahui pada masa itu sudah meninggal dunia. Saat kami menggali kisah beliau, para sesepuh yang menceritakan kepada kami, waktu itu masih terbilang seusia anak - anak.

Cerita para sesepuh. Konon Kiyai Yasin pernah memiliki seekor kuda jantan hitam besar yang dijuluki dengan Sembrani.sebagian lagi mengatakan namanya kuda melati.
      
Katanya, Kuda Sembrani ini hidupnya mandiri. 
Setiap hari Kuda Sembrani mencari makan sendiri namun setelah kenyang seperti halnya hewan piaraan lainya pulang kekandang dengan sendirinya. Kesetiaan Sembrani kepada Kiyai, setiap pagi menunggu beliau keluar rumah lalu beliau mengajak kuda itu jalan-jalan keliling desa. Setiap Kiyai Yasin hendak bepergian. Sembrani selalu siap menemani perjalanan beliau.

" Ketika saya masih kecil, beliau ( kakek saya ) pernah membuat sebuah sumur di sebelah sungai." Ujar H. Dhofir.
            
Ada histori penting, namun sayang. Kini sumur tersebut sudah tidak ada. Bekasnya pun menghilang tertutup pembangunan gedung Madrasah Tsanawiyah, ceritanya sumur inilah yang pernah menjadi tempat warga desa menyelamatkan diri dengan dibantu Kiyai Yasin pada saat ada upaya dari Tentara Belanda yang menyasar warga. Kebengisan tentara Belanda yang tak segan menghabisi warga pribumi yang tak mau tunduk. Berkat pertolongan Allah, Tentara Belanda tak berhasil menyerang warga sekitar yang diminta bersembunyi didalam sumur tersebut oleh Kiyai Yasin. 

Cinta masyarakat. 

Sosok Kiyai Yasin yang dikenal sangat perhatian terhadap masyarakat, dakwah beliau lemah - lembut serta kebaikan dan kedermawanannya membuat masyarakat yang hidup di sekitar rumah beliau merasa berhutang budi.
Suatu ketika padi disawah beliau sudah menguning, tanda siap untuk di panen, sebagai bentuk balas budi, masyarakat yang hidup di sekitar rumah dengan sukarela  bergotong royong memanenkan padi di sawah beliau, meskipun tanpa disuruh dan tidak meminta imbalan apapun. hasilnya pun dikembalikan kepada beliau 100%. Inilah yang sampai saat ini diingat oleh ustd H. Dhofir. Bahwasannya Allah akan menolong setiap orang terutama bagi orang yang dengan iklas memperhatikan orang lain.

Langit mendung menyelimuti desa Areng-areng, sosok yang santun nan arif itu kini telah pergi meninggalkan warga, tepatnya pada tanggal 1 Rajab 1374 / 1 Mei 1952. Beliau (kiai Yasin) di paggil oleh sang pencipta. Tak sedikit  yang haru kehilangan sosok yang begitu peduli terhadap masyarakat. 

Beliau meninggalkan banyak keteladan dalam perjuangan dakwah melayani masyarakat perihal mengajarkan nilai - nilai islami yang luhur.

Dakwah yang  berawal dari musholah sederhana terbuat dari bambu, kelak menjadi cikal bakal bedirinya pondok pesantren Al-Yasini yang dinisbatkan kepada nama beliau. Menurut penuturan beberapa sumber. Seiring berjalananya waktu, dakwah beliau diteruskan oleh KH. Imron Fathulloh, menggagas Pondok Pesantren Al-Yasini. Sebelumnya diawali sejak tahun 1940 dengan beberapa Santri yang mondok. 

Novan Arianto, 
Revisi Terbitan Insani
Edisi ke 3, Oktober 2014






 
Keteladanan KH. Yasin Abd Ghoni, Awal Pondok Al-Yasini. Keteladanan KH. Yasin Abd Ghoni,  Awal Pondok Al-Yasini. Reviewed by avan on Maret 03, 2021 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.